lintas1.id, KUTAI KARTANEGARA – Kecamatan Sebulu Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) memiliki potensi perikanan yang melimpah, namun masih minim kesejahteraan bagi para nelayan. Hal ini dikarenakan modal dan akses pasar yang terbatas.
Harga ikan di tingkat lokal yang fluktuatif membuat pendapatan nelayan setiap harinya tidak menentu. Di saat hasil tangkapan melimpah, harga justru anjlok. Sementara ketika panen sepi, biaya operasional lebih besar daripada pemasukan.
Pemerintah Kabupaten Kukar sebenarnya telah meluncurkan program Kredit Kukar Idaman sebagai jawaban atas kebutuhan modal pelaku usaha kecil, termasuk nelayan. Namun, implementasinya di lapangan masih belum sepenuhnya menjawab kebutuhan.
Menurut Kasi Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Kecamatan Sebulu, Nurul Yakin, banyak nelayan menghadapi hambatan administratif untuk mengakses program tersebut.
“Program ini sangat membantu dalam hal modal awal, tetapi jujur saja, masih jauh dari cukup. Banyak nelayan yang belum bisa mengaksesnya karena keterbatasan administrasi maupun sosialisasi,” ujarnya pada Selasa (19/8/2025).
Selain soal permodalan, Nurul menegaskan distribusi hasil tangkapan menjadi tantangan terbesar. Sebagian besar produk perikanan masih dipasarkan di tingkat lokal dengan harga yang tidak stabil.
“Pasar lokal memang cepat, tapi harganya sangat tidak menentu. Kalau panen banyak, justru harganya jatuh. Nelayan jadi bingung harus jual ke mana lagi,” ungkapnya.
Menjawab hal itu, pemerintah kecamatan mendorong sinergi lebih erat dengan Dinas Perikanan dan instansi terkait. Beberapa langkah tengah disiapkan, mulai dari pelatihan pengolahan hasil tangkapan, pendampingan usaha, hingga fasilitasi pembukaan jalur pemasaran baru ke luar wilayah Kukar. Nurul menekankan perlunya keberlanjutan dalam pembinaan.
“Harapan kami, ada pembinaan rutin yang tidak hanya datang saat ada proyek, tapi benar-benar berkelanjutan. Nelayan kita perlu dukungan jangka panjang,” katanya.
Selain itu, pemerintah kecamatan menilai investasi infrastruktur menjadi kebutuhan mendesak. Keberadaan cold storage dan transportasi memadai akan menjaga kualitas produk saat didistribusikan ke pasar regional maupun antarwilayah.
Bagi Nurul, dukungan nyata di lapangan lebih penting dibanding kehadiran administratif semata.
“Kami sangat berharap Pemkab dan dinas terkait tidak hanya hadir secara administratif, tapi juga aktif di lapangan, mendampingi nelayan kita agar lebih siap menghadapi tantangan pasar ke depan,” tutupnya.(adv/diskominfokukar/ls1/mjb)










