UTP Gelar Zoom Intelectual Property : Sharing The Best Practice Of The Philippines And Indonesia

LINTAS1, SOLO – Pada hari Sabtu, 04 Desember 2021 Universitas Tunas Pembangunan (UTP) Surakarta berkolaborasi dengan Kampus Nueva Ecija University of Science and Technology (Neust) Filipina menyelenggarakan webinar International yang diadakan secara daring melalui zoom.

Sebanyak 400 peserta yang berasal dari Indonesia, Filipina dan beberapa negara Asean lainnya ikut dalam acara webinar ini. Mengusung tema Intelectual Property : Sharing The Best Practice Of The Philippines And Indonesia, menghadirkan pemateri dari beberapa negara seperti Singapura yang diwakili oleh Peter Willimott (Officer in charge Wipo Singapore), Jenewa diwakili oleh Andrew Michael Ong (Director, division for Asia and Pacific, WIPO), Filipina yang diwakili oleh Adrian Sablan (ITSO Program Head, IPOPhil) dan Kenneth L. Armas (Director, NEUST Production Dept) dan Indonesia Ragil Yoda Edi (Diretor, IP Management BRIN) dan dosen kampus UTP Dr Haryuni (IP Focal Person, UTP) dan Moh Ali Yafi (Director of International Office-UTP).

Pada awal acara dibuka oleh rektor dari masing-masing Universitas, Dr. Feliciana P. Jacoba, Rektor Neust Filipina dan Prof. Tresna Priyana Soemardi, SE., MS., selaku Rektor UTP Surakarta. Dan dimoderatori oleh Division Head, Neust – ITSO Allen Paul Esteban.

Intelektual property atau yang kita kenal dengan Hak Kekayaan Intelektual merajuk pada kekayaan yang lahir dari kemampuan intelektual manusia, meliputi teknologi, ilmu pengetahuan, seni dan sastra. Pentingnya mempelajari intelektual property adalah bagaimana sebuah karya autentik atau original dari sebuah ide yang dipatenkan agar tidak di klaim oleh pihak atau orang lain.

Intelektual property juga memiliki manfaat untuk kampus atau universitas seperti yang disampaikan oleh Kepala Pusat Pelayanan Hak Kekayaan Intelektual dan Publikasi UTP Surakarta, Imam setyo nugroho, M.Pd yang mengatakan bahwa intelektual property dapat melindungi hasil penelitian atau gagasan seta hasil temuan yang dimiliki akademisi, sehingga dapat dikomersialisasi dan tidak diakui oleh orang lain.

Manfaat lainnya tentu akan meningkatkan iklim akademik dan menjadi salah satu tolak ukur peningkatan kualitas kampus untuk semakin baik. Penelitian ini tentu berdampak besar juga terhadap masyarakat dan dapat menyelesaikan problem yang ada di masyarakat. Maka dari itu Intelektual property sangat penting bagi lingkungan akademisi maupun di kampus.

Dengan adanya intelektual property ini tentu dapat mendorong para pencipta untuk terus berkarya dan berinovasi. Seperti apa yang disampaikan oleh Dr. Haryuni, MP tentang intelektual Property seharusnya dilindungi secara hukum agar tidak disalahgunakan. Selain itu dalam mendaftarkan intelektual property perlu pertimbangan potensi yang dapat diajukan sebagai produk kekayaan intelektual.

Pencurian tidak hanya berlaku dalam hal kebendaan namun juga dari segi ide. Intelectual property merajuk pada kekayaan yang lahir dari kemampuan intelektual manusia hal ini meliputi teknologi, ilmu pengetahuan, seni dan sastra.

Karya yang termasuk dalam intelektual property adalah jerih payah yang harsu dilindungi, intelektual property dibuat untuk mendorong para pencipta untuk terus berkarya. Seperti yang disampaikan oleh Dr. Haryuni, selaku pemateri perwakilan dari UTP Surakarta bahwa

“Kekayaan intelektual harus dilindungi secara hukum agar tidak disalahgunakan,” paparnya.

Sebelum mendaftarkan intelektual property pertimbangkan potensi yang dapat diajukan sebagai produk kekayaan intelektual. Kepemilikan kekayaan intelektual menganugerahkan prestise pada mahasiswa, dosen, institusi dan lain-lain

Bagaimana sistem dan prosesnya dalam Intelektual property atau Hak Kekayaan Intelektual baik di Indonesia maupun Filipina. Tema webinar international  Intelectual Property : Sharing The Best Practice Of The Philippines And Indonesia mendorong semakin terlindunginya Hak Kekayaan Intelektual. (*/ian)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.