Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Hingga 5,5% Tahun 2022

Webinar DBS eTalk Series bertajuk “2022 Leap Ahead: Economy Reopening & Strategic Sector Rotation”

LINTAS1, JAKARTA – Penyebaran vaksinasi, kebijakan fiskal dan finansial pemerintah, serta pertumbuhan struktural yang kuat diperkirakan akan mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun mendatang. Bank DBS Indonesia melalui DBS Treasures dan Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) memaparkan market outlook bertajuk “2022 Leap Ahead: Economy Reopening & Strategic Sector Rotation” untuk membuka wawasan terkait peluang investasi bagi nasabah.

Sesi ini menghadirkan Staf Khusus Menteri Keuangan RI, Yustinus Prastowo, Senior Economist DBS, Radhika Rao, Chief Economist & Investment Strategist Manulife Aset Manajemen Indonesia, Katarina Setiawan serta Staf Khusus Kementerian Keuangan, Titik Anas sebagai keynote speaker.

“Rangkaian eTalk Series merupakan komitmen DBS Treasures dalam menghadirkan insights. Lebih dari itu, topik yang dibahas juga disesuaikan dengan minat dan profil nasabah. termasuk preferensi pengembangan portofolio. Ke depan, akan kami adakan beragam eTalk yang dipersonalisasi sesuai dengan kelompok nasabah yang akan kami undang, baik mengenai kondisi pasar, informasi produk handal terbaru, hingga keutamaan gaya hidup. Semua ini kami lakukan sesuai misi kami dalam memberikan layanan yang lebih personal, disesuaikan dengan individu nasabah,” ujar Director of Consumer Banking PT Bank DBS Indonesia, Rudy Tandjung.

Optimisme Bank Indonesia akan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2022 yang berkisar 4,7%-5,5% disambut baik oleh Senior Economist DBS Bank, Radhika Rao. Beliau menjelaskan, “Terdapat tiga hal penting yang dapat memicu terjadinya peningkatan pertumbuhan perekonomian Indonesia pada tahun 2022. Pertama, Indonesia diprediksi akan berhasil memberikan dosis vaksin penuh kepada 99% dari total populasi dewasa pada bulan Maret 2022. Kedua, kemungkinan Indonesia yang akan menawarkan lebih banyak investasi dan bergerak pada sektor komoditas hilir serta akselerasi digitalisasi, akan mengembalikan pada pertumbuhan yang stabil. Ketiga, laporan fiskal Indonesia yang memuaskan dan langkah-langkah untuk mengurangi pajak pada ratio GDP akan memperkuat rasio utang dibandingkan negara lain di Asia.”

Radhika juga menyampaikan bahwa program vaksinasi merupakan salah satu kunci dari keberhasilan penanganan pandemi di Indonesia. “Dengan terlaksananya program vaksinasi secara masif dan terstruktur, mobilitas masyarakat akan meningkat dan hal ini memicu aktivitas perekonomian untuk mulai berjalan kembali. Indonesia sendiri merupakan salah satu negara yang berhasil melewati masa kritis pandemi di kuartal IV 2021 berkat adanya pengurangan asumsi ketidakpastian terhadap pasokan vaksin. Jika dapat terus dipertahankan, ekspektasi pemulihan ekonomi, serta pergerakan komponen lain seperti konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, investasi, hingga ekspor dan impor dapat berjalan sesuai harapan,” tutup Radhika.

Dalam kesempatan yang sama, Staf Khusus Menteri Keuangan Bidang Komunikasi Strategis Kementerian Keuangan, Yustinus Prastowo mengungkapkan bahwa disahkannya asumsi dasar ekonomi makro pada Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) tahun 2022 menjadi tolok ukur pemerintah Indonesia dalam menyongsong perekonomian di tahun 2022, “Terdapat empat poin penting yang disepakati oleh pemerintah dan DPR yang akan menjadi dasar penentuan RAPBN. Pertama, pertumbuhan ekonomi disepakati berada di kisaran 5,2% hingga 5,5%. Kedua, laju inflasi ditetapkan 3%. Ketiga, nilai tukar rupiah ditentukan untuk tidak lebih dari Rp14.350 per dollar Amerika Serikat, dan terakhir, tingkat suku bunga Surat Utang Negara (SUN) 10 tahun 2022 ditetapkan sebesar 6,8%.”

Selain itu, Yustinus memaparkan, “Pemerintah Indonesia juga menyetujui sejumlah langkah perpajakan. Langkah-langkah itu ditujukan untuk mengkompensasi penerimaan yang melemah dan kebutuhan pengeluaran lebih tinggi karena pandemi. Dengan adanya asumsi dasar ekonomi makro RAPBN dan langkah-langkah ini, memperbesar kemungkinan masyarakat Indonesia untuk mengoptimalkan peluangnya dalam berinvestasi.”

Chief Economist & Investment Strategist Manulife Aset Manajemen Indonesia, Katarina Setiawan, mengungkapkan, “Indonesia dan negara-negara ASEAN-4 (Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Thailand) akan mengalami ekspansi pertumbuhan di tahun 2022. Hal ini bertolak belakang dengan tren normalisasi pertumbuhan yang terjadi di Amerika Serikat dan sebagian negara Asia.

Sebagai produsen besar dari berbagai komoditas penting dunia, Indonesia menyediakan natural hedge yang menjadi penyelamat ekonomi kita di tengah terjadinya inflasi tinggi di berbagai kawasan. Indonesia juga memiliki structural stories yang sehat, berbeda dengan banyak negara di Asia yang mengalami peningkatan rasio utang dan jumlah penduduk memasuki usia lanjut. Beberapa hal tersebut ikut meningkatkan daya tarik investasi di Indonesia, di tengah tren diversifikasi oleh investor yang dipicu masalah geopolitik serta pandemi.”

Katarina menambahkan, “Aliran dana asing telah kembali masuk ke pasar saham, bahkan semakin kuat menjelang pengetatan moneter The Fed. Indonesia akan bertumbuh karena pembukaan kembali perekonomian pada tahun 2022. Sedang terjadi rotasi sektoral, dan kami melihatnya sebagai fenomena yang wajar didukung oleh membaiknya situasi pandemi dalam negeri.

Ekonomi digital juga masih sangat menarik dengan prospek pertumbuhan kuat, terutama didukung oleh potensi inklusi pada indeks saham global. Sektor teknologi, green economy, dan telekomunikasi tetap menjadi sektor pilihan. Sementara itu, pasar obligasi dinilai siap dalam menghadapi perubahan sentimen global. Fundamental makro yang lebih baik dan stabilitas eksternal yang terus diperkuat diharapkan dapat menjaga volatilitas pasar obligasi Indonesia. Kami memiliki pandangan yang positif terhadap pasar modal di tahun 2022.”

Selain memberikan insights atau wawasan akan informasi terkini, Bank DBS Indonesia juga melakukan transformasi digitalisasi – di mana semua layanan perbankan mulai dari membuka rekening tabungan, deposito, investasi obligasi dan reksadana dapat dilakukan secara mudah dengan aplikasi digibank by DBS. Hal ini sejalan dengan visi Live More Bank Less, di mana Bank DBS Indonesia berkomitmen untuk memberikan pengalaman perbankan yang menyenangkan bagi nasabah. (*/ian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.