Sejarah Tahun Baru Masehi

Apa itu tahun masehi, kapan awal tahun baru masehi, sejarah tahun baru masehi ?
LINTAS1, SOLO – Tahun baru adalah suatu perayaan pergantian tahun sebelumnya yang ditandai dengan berakhirnya satu tahun dan mengawali kembali ke tahun berikutnya. Tahun baru ini ditandai sebagai hari libur nasional di seluruh dunia, sebab budaya masyarakat dunia termasuk Indonesia yang menganut kalender Gregorian memperingati tahun baru sebagai hari libur spesial dengan tanda berakhirnya tahun dan mengawali tahun yang baru.

Tahun baru ini juga sering dirayakan melalui pesta kembang api, meniup terompet, atau dengan acara festival dan lain-lain. Namun apakah kita tahu bagaimana sejarah adanya peringatan tahun baru masehi ini?

Sejarah tahun baru awalnya berasal dari “Mesopotamia” ribuan tahun yang lalu yakni sekitar 2000 SM, Mesopotamia dalam bahasa Yunani berarti “daerah di antara sungai-sungai” sebab secara geografis terletak diantara dua sungai besar yaitu Sungai Euphrat dan Tigris, sekarang dikenal dengan Irak. Mesopotamia sendiri konon sebagai pusat peradaban tertua di dunia oleh bangsa Sumeria.

Pada saat itu pergantian tahun baru dirayakan pada pertengahan Maret sekitar tanggal 20, mengapa pada bulan itu? Karena penduduk Mesopotamia mengawali tahunnya dengan pergantian musim, datangnya perubahan musim semi dijadikan sebagai perayaan tahun baru yang dilakukan di abad kuno tersebut. Disanalah matahari melintas tepat di atas khatulistiwa.

Mengapa tahun baru kini selalu dimulai pada bulan Januari? Awalnya adalah karena kalender kontemporer (Gregorian) kita didasarkan pada kalender Julian. Kalender Julianus menetapkan tahun Romawi dimulai pada tanggal 1 Januari, maka pada sekitar tahun 1582 Paus Gregorius XIII mengubahnya menjadi 1 Januari sebagai tahun baru. Januari diambil dari nama “Janus”, (dewa dengan dua wajah), satu melihat ke depan dan satu lagi melihat ke belakang, dengan arti bahwa wajah yang menghadap ke depan adalah sebagai tahun berikutnya dan menghadap belakang adalah menandakan kesan tahun yang lalu.

Kalender Julian diusulkan oleh astronom Sosigenes dan diberlakukan oleh Julius Caesar sejak 1 Januari 45 SM. Sebab pada waktu itu Julius Caesar sudah dinobatkan sebagai kaisar Roma yang berkuasa dan yang menentukan tanggal tersebut. Caesar adalah seorang Romawi negarawan umum dan yang memainkan peran penting dalam peristiwa yang menyebabkan kematian para Republik Romawi dan munculnya Kekaisaran Romawi.

Julius Caesar menggantikan penanggalan tradisional Romawi tersebut yang telah diciptakan sejak abad ke-7 SM. Sosigenes menyarankan agar penanggalan baru itu dibuat dengan mengikuti revolusi matahari, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang Mesir. Satu tahun dihitung sebanyak 365 seperempat hari, dan terhitung 12 bulan.

Sebelum Julius Caesar terbunuh ia sempat mengubah nama bulan pada kalender tersebut yang bernama bulan “Quintilis” diganti dengan nama miliknya yaitu “Juli” diambil dari kata Julius. Kemudian setelah Caesar digantikan oleh Kaisar Augustus nama bulan “Sextilis” setelah Quintilis diganti dengan nama “Agustus”.

Pada zaman Romawi kuno perayaan tahun baru dilakukan dengan saling memberikan kacang dan koin lapis emas dengan gambar wajah dewa Janus. Sebab pesta tahun baru adalah sebagai penghormatan bagi dewa Janus. Kemudian perayaan ini menyebar ke Eropa seiring muncul dan berkembangnya agama nasrani. Bahkan perayaan ini dijadikan sebagai hari suci oleh pemimpin gereja yang mana berdampingan dengan perayaan Natal. Oleh sebab itulah ucapan Natal dan Tahun baru sering sekali disatukan dalam tradisi umat Nasrani.

Kini tahun baru dijadikan sebagai momen memohon keberuntungan untuk tahun yang akan datang, atau harapan mengubah kebiasaan buruk menjadi kebiasaan baik. Perayaan tahun baru sangat beragam diberbagai kota maupun negara, banyak cara dalam merayakannya. Persia Kuno cara merayakan tahun baru dengan memberi hadiah telur. Tradisi ini melambangkan produktifitas yang meningkat ditahun yang baru.

Amerika Serikat merayakan tahun baru dengan cara berkumpul bersama orang-orang di kota New york untuk menonton televisi, dan ketika lonceng tengah malam berbunyi maka menandakan sudah masuk pada tahun baru, seketika itu sirine dinyalakan lalu meledakan kembang api dengan meneriakan kalimat “Selamat Tahun Baru”.

Sebagian masyarakat ada yang merayakan dengan cara berdoa di gereja atau tempat ibadah, ada yang memilih berkumpul bersama keluarga. Ada juga dengan mengadakan konser atau karnaval tahun baru untuk memeriahkan pergantian tahun baru. Hingga saat ini seperti di Indonesia yang mengadopsi budaya barat sering mengadakan perayaan tahun baru dengan menyalakan petasan dan kembang api. Namun saat ini perayaan tahun baru mungkin tidak semeriah dulu karena pandemi, diharuskannya dirumah dan menjaga jarak demi terhindar dari persebaran virus tersebut. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.